1 Dari 10 Orang Warga Indonesia Mengidap Gangguan Jiwa

Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin

Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar ( Riskesdas ) tahun 2018, ada tiga jenis gangguan jiwa yang paling banyak ditemukan di Indonesia, yaitu: Gangguan mental emosional (anxiety, bipolar), Depresi, Gangguan jiwa berat (skizofrenia).

JAKARTA | Faktadetail.com Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan 1 dari 10 orang di Indonesia mengalami gangguan jiwa. Hal ini terjadi karena kurangnya kemampuan untuk mendeteksi gangguan jiwa dari awal. Menkes mengatakan deteksi dini gangguan jiwa di Indonesia masih sangat lemah. Sifatnya masih secara observasi.

Bacaan Lainnya

“Di Indonesia, 1 dari 10 yang terdeteksi (gangguan jiwa). Deteksi dini kita itu lemah sekali,” ungkap Menkes dalam rapat kerja bersama Komisi IX DPR RI, Selasa (7/11/2023).

“Kalau gangguan jiwa ini masih sangat manual, jadi pakai kuisioner. Apakah dia punya anxiety sama depresi,” sambungnya.

Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar ( Riskesdas ) tahun 2018, ada tiga jenis gangguan jiwa yang paling banyak ditemukan di Indonesia, yaitu:

Gangguan mental emosional (anxiety, bipolar) 9,8 persen
Depresi 61 persen
Gangguan jiwa berat (skizofrenia) 0,2 persen

Dalam pemaparannya, Menkes mengatakan gangguan jiwa anxiety yang paling sulit terdeteksi. Ia menyebut banyak masyarakat yang mengalami gangguan ini.

Bahkan tes kesehatan jiwa ini sudah dilakukan di wilayah Kementerian Kesehatan. Menurut Menkes, hasilnya sangat mengejutkan.

“Tapi, anxiety nih nggak tertangkap, biasanya,padahal banyak sekali yang kena, ini hormonalnya sudah terpengaruh. Karena ada hormon serotonin dan dopamin, kemudian bisa jadi depresi,” beber Menkes.

“Skrining ini juga baru dilakukan di Kemenkes, dan ternyata hasilnya mengejutkan saya. Banyak juga yang anxiety, depresi, padahal mereka tidak running untuk pemilu,” kata Menkes

Menkes menyebut nantinya sistem skrining gangguan jiwa ini akan diperbaiki. Permasalahan ini sangat penting dan tinggi sekali.

“Seharusnya bisa ditangani lebih baik agar jangan terus turun jadi anxiety, tidak ke rawat jadi depresi, tidak ke rawat jadi skizofrenia. Kalau skizofrenia masuk rumah sakit jiwa sudah susah, sudah telat. Harusnya saat dia sudah anxiety sudah diajarin untuk terapi,” pungkasnya.

Pos terkait