banner 728x250

DPR RI Dede Yusuf : Pemerintah Daerah Harus Beri Perhatian Khusus Buruknya Akses Jalan Menuju ke Sekolah

Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Dede Yusuf.
banner 120x600
banner 468x60

Fenomena seperti di Kabupaten Luwu itu banyak sekali terjadi, bahkan di daerah-daerah yang sebenarnya dekat dengan kota-kota besar. Pemerintah Daerah sangat penting sekali untuk membuat mapping atau database terkait proses berangkat dan pulang ke sekolah. Agar tidak lagi terjadi anak-anak SD bergelantungan untuk menyebrang sungai seperti yang terjadi di Luwu,” Sebagaimana siswa SDN 478 Barowa, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan (Sulsel), menyeberangi sungai dengan rakit yang terbuat dari gabus demi bisa ke sekolah karena jembatan penyeberangan rusak diterjang banjir. Permasalahan ini adalah persoalan infrastruktur, bukan permasalahan kualitas pendidikan

JAKARTA | Faktadetail.com – Wakil Ketua Komisi X DPR RI Dede Yusuf menyoroti buruknya akses jalan menuju ke sekolah di beberapa wilayah. Karena itu, ia meminta Pemerintah Daerah (Pemda) setempat memberikan perhatian khusus terhadap masalah ini. Menurut Dede, selain siswa, tidak sedikit juga tenaga pengajar yang harus berjuang ekstra untuk bisa sampai ke sekolah tempat mereka mengajar murid-murid.

banner 325x300

“Saya sering menemukan sekolah yang berada di bawah tebing gunung atau tebing bukit. Perjalanan untuk ke sekolah itu harus melewati jalan setapak yang pingir-pingirnya atau tepinya adalah jurang. Guru-guru juga cerita kepada saya untuk sampai ke sekolah itu, mereka harus naik motor melewati jalan berkubang atau berlumpur atau berjalan kaki dua sampai tiga jam baru sampai di lokasi. Apalagi siswanya,” kata Dede dalam keterangan tertulisnya (14/6/2023).

Dede menegaskan pentingnya akses jalan di daerah-daerah pedalaman dan setiap Pemda dalam hal ini, punya tanggung jawab dalam hal infrastruktur pendidikan di wilayahnya. Dede menganggap, kurangnya pendataan dan pemetaan lokasi menjadi salah satu sebab masih banyak ditemukannya anak-anak yang kesulitan ketika berangkat dan pulang sekolah.

“Karena di situlah beradanya masyarakat kita. Dan fenomena seperti di Kabupaten Luwu itu banyak sekali terjadi, bahkan di daerah-daerah yang sebenarnya dekat dengan kota-kota besar. Pemerintah Daerah sangat penting sekali untuk membuat mapping atau database terkait proses berangkat dan pulang ke sekolah. Agar tidak lagi terjadi anak-anak SD bergelantungan untuk menyebrang sungai kemudian seperti yang terjadi di Luwu,” ujarnya.

Dede pun mencontohkan, bagaimana siswa SDN 478 Barowa, Kabupaten Luwu, Sulawesi Selatan (Sulsel), harus bertaruh nyawa menyeberangi sungai dengan rakit yang terbuat dari gabus demi bisa ke sekolah karena jembatan penyeberangan rusak diterjang banjir. Menurut Dede, permasalahan ini adalah persoalan infrastruktur, bukan permasalahan kualitas pendidikan.

“Jadi harap dibedakan. Dan memang sebaiknya sekolah-sekolah yang sulit dijangkau itu dipindah ke lokasi yang mudah dijangkau. Lalu kemudian tentunya adalah sekolah yang sudah tidak layak jangan lagi dipergunakan sebagai sekolah, harus segera dipindahkan ke sekolah baru,” tutup Dede. ( Parlementaria )

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

30 − = 21