KIBLAT CAPRES KIB

Oleh : Dr Anang Anas Azhar, MA

KONSTALASO politik Indonesia satu pekan terakhir benar-benar buyar. Buyar karena PDI Perjuangan resmi mengumumkan capresnya 21 April 2023 lalu. Parpol besutan Megawati Soekarno Putri, resmi mengusung Ganjar Pranowo menjadi Capres 2024. Tak lama berselang, PPP pun seperti tidak ketinggalan langkah mengikuti jejak politik PDI Perjuangan dengan mengusung Ganjar Pranowo.

Lantas pertanyaannya, bagaimana nasib Koalisi Indonesia Bersatu (KIB) yang sudah terbangun rapi sejak tahun 2022 lalu. Lalu ke mana kiblat capres KIB pasca Ganjar Pranowo ditetapkan PDIP? Nasib apes pun dialami KIB, yang tergabung dalam tiga parpol yakni PPP, Golkar dan PAN. Ketiga parpol ini sepertinya tidak solid dan berjalan sendiri-sendiri dalam menetapkan capresnya.

Baca juga Tiga Poros Kekuatan di Pemilu 2024, Pakar Politik Yakin : Prabowo Tak Mungkin Dampingi Ganjar
Jauh-jauh hari, nasib KIB yang dibangun tiga Ketua Umum Parpol KIB pasti mengalami keretakan ketika membicarakan siapa capres dan cawapresnya. Di panggung depan, tiga parpol ini terlihat berjalan seiring sejalan, rapi dalam banyak silaturrahim politik, bahkan elit politik tiga parpol ini sangat rapi menutupi kekurangan mereka. Singkatnya, panggung depan, terlihat solid dalam mengusung capres dan cawapres. Tapi sayang, panggung belakang komunikasi politiknya sangat buruk. Titik temu politik siapa capres dari koalisi tiga parpol ini sulit disatukan.

PPP akhirnya mulai memisahkan diri dari KIB. PPP bergerak cepat mengikuti langkah PDI Perjuangan mencapreskan Ganjar Pranowo. Nasib kurang baik pun menerpa KIB saat ini. Ancaman terburuknya adalah KIB bakal bubar atau mungkin PPP tidak mau tau lagi dengan KIB karena terlanjur mengusung capres berkoalisi bersama PDI Perjuangan.

Awal kesepakatan terbentuknya KIB yang digagas tiga Ketua Umum Parpol ini, ending-nya mengusung capres bersama dan didukung secara bersama pula.

Dinamika politik minggu per minggu, bulan per bulan mulai nampak. Keretakan pun tidak terbendung lagi. Komunikasi politik yang terbangun selama ini “pecah” karena berbeda capres. Kabarnya, sejak awal KIB memang tidak memiliki capres yang potensial berdasarkan elektabilitas di tiga elit parpol ini. Erlangga Hartarto, Zulkifli Hasan maupun Mardianto tidak memiliki modal sosial yang kuat untuk berkompetisi dengan tiga capres potensial berdasarkan survei yakni Ganjar, Prabowo dan Anies Baswedan. Artinya, nama-nama ketua umum parpol yang tergabung dalam KIB tidak layak “jual” secara politik.

Hemat penulis, wajar jika PPP mengambil langkah politik sendiri mencapreskan Ganjar Pranowo. Ibarat dalam kompetisi, siapa yang ingin jagoan capresnya ingin kalah. Atas dasaer inilah, PPP bergerak cepat meninggalkan jagoan capres yang bakal diusung KIB.

Satu sisi, elektabilitas Erlangga Hartarto sulit menang. Upaya politik dan langkah politik mendongkrak elektabilitas Erlangga Hartarto sudah dilakukan. Sosialisasi dalam bentuk baliho dan spanduk-spanduk jauh-jauh hari sudah sangat kencang dilakukan Erlangga. Tapi, akhirrnya survei jagoan Partai Golkar ini tidak juga terdongkrak dengan baik.

Pasca PPP mencapreskan Ganjar Pranowo, rumor politik pun beredar.
Pertama, KIB bubar dengan sendirinya. Koalisi PPP, PAN dan Golkar sepertinya sudah sangat tepat, bahkan sudah memenuhi President Threshold (PT) 20 persen sebagai syarat ambang batas pencalonan pasangan calon presiden dan wakil presiden. Begitu pun walau PPP keluar dari KIB, PAN dan Golkar masih mempertahankan agar KIB tidak bubar, maka jumlah dari kedua parpol ini jika berkoalisi masih memenuhi syarat ambang batas pencalonan pasangan capres/cawapres. Partai Golkar memperoleh 85 kursi di parlemen, PAN memiliki 44 kursi di parlemen. Jika digabungkan, PAN-Golkar memiliki 129 kursi, dan memenuhi syarat PT untuk mencalonkan pasangan capres/cawapresnya.

Yang kedua, berandai-andai PAN-Golkar berkoalisi mengusung Erlangga-Zulkifli Hasan mencalonkan diri, maka KIB tetap berjalan. Sayangnya, matematika politik bisa berkata lain. Potensi menang dari koalisi PAN-Golkar sulit terwujud. Hemat penulis, seandainya pasangan capres/cawapres ini terwujud, paling tidak hanya mempertahankan perolehan suara PAN-Golkar saja pada Pemilu 2024 agar tetap lolos parlemen thereshold 4 persen. Karena pemilu mendatang perlaksanaannya berjalan secara serentak.

Ketiga, kiblat KIB pasca PPP menetapkan dukungan ke Ganjar, bisa jadi PAN dan Golkar bakal mengarahkan dukungan capresnya kepada Ganjar. Sampai pada aspek ini, secara politik, PPP, Golkar dan PAN akan berkompetisi lagi mendorong cawapresnya untuk dipasangkan dengan Ganjar Pranowo.

PPP secara politik, hampir dipastikan mendorong Sandiaga Uno dipasangkan kepada Ganjar sebagai wakil. Hal yang sama juga terjadi dengan PAN bakal memasangkan Ganjar-Erick Tohir, begitu juga dengan Golkar mendorong penuh agar Erlangga berpasangan dengan Ganjar-Erlangga. Singkatnya, jika PAN-Golkar sama-sama mendukung Ganjar, maka persoalan politik baru bakal mengemuka kembali, ketika masing-masing elit ini “memaksa” Ganjar mengambil wakilnya dari usulan PPP, PAN dan Golkar.

Tiga kemungkinan arah kiblat KIB seperti diuraikan di atas bisa jadi muncul. Begitu pun, PDI Perjuangan tidak semudah yang dibayangkan menerima begitu saja usulan tiga wakil cawapres yang didorong PAN, Golkar dan PPP. Mengapa ? PDIP ingin menang dalam pilpres 2024 mendatang. Sepertinya PDIP mau hattrick dalam pilpres 2024 setelah menang dalam Pilpres 2014 dan 2019. Dan belajar dari Pilpres 2004 lalu yang menerima kekalahan dari Capres Demokrat SBY.

Penulis adalah Analis Komunikasi Politik UIN Sumatera Utara – Medan Sumatera Utara.

Pos terkait