KPU RI Digugat Rp 70,5 Triliun Di PN Jakarta Pusat, Dugaan Perbuatan Melawan Hukum Menerima Capres-Cawapres Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka

Brian Demas Wicaksono menggugat KPU atas dugaan Perbuatan Melawan Hukum

Minta Putusan Provisi:

1. Menyatakan dan menetapkan bahwa sebelum perkara ini memperoleh putusan yang memiliki kekuatan hukum tetap, segala bentuk surat-surat, penetapan-penetapan, dan keputusan-keputusan yang dikeluarkan oleh Tergugat berkaitan dengan proses Pencalonan Tergugat II dan Tergugat III sebagai pasangan Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden dinyatakan berada dalam status quo dan tidak memiliki akibat hukum;
2. Memerintahkan Tergugat untuk menghentikan sementara proses tahapan pencalonan bakal pasangan Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden Prabowo Subianto (Turut Tergugat II) dan Gibran Rakabuming Raka (Turut Tergugat III) sampai putusan akhir yang mempunyai kekuatan hukum tetap

Bacaan Lainnya

JAKARTA | Faktadetail.com – Seorang Dosen atas nama  Brian Demas Wicaksono, menggugat Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia ( KPU RI ) atas dugaan Perbuatan Melawan Hukum ( PBH ), karena menerima pendaftaran capres-cawapres Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka. Gugatan itu dilayangkan ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat ( PN Jakpus ).
“Kebetulan saya sebagai penggugat terhadap KPU RI, latar belakang saya sebagai Dosen, Akademisi, saya melihat bahwa ada Perbuatan Melawan Hukum yang dilakukan oleh Ketua KPU RI.

Harusnya Ketua KPU RI melakukan rapat dengar pendapat ( RDP ) dengan DPR dahulu untuk melakukan perubahan PKPU,” kata Brian Demas Wicaksono kepada wartawan di PN Jakpus, Jalan Bungur Besar Raya, Jakarta Pusat, Senin (30/10/2023).

Demas Demas Wicaksono mengatakan KPU RI seharusnya melakukan perubahan PKPU sesuai keputusan MK terkait syarat batas usia capres-cawapres. Menurutnya, perubahan PKPU itu tidak dilakukan oleh KPU namun tetap menerima pendaftaran capres-cawares Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka.

“Tapi ini tidak dilakukan oleh Ketua KPU RI, malah kemudian menerima pendaftaran tanpa merubah PKPU terlebih dahulu. Maka dari itu pendaftaran yang dilakukan oleh calon wakil presiden Gibran Rakabuming Raka itu tidak memiliki dasar hukum atau tidak memiliki legal standing yang tepat, karena tidak sesuai dengan apa yang sudah diatur dalam PKPU bahwa syaratnya hanya 40 tahun tidak ada redaksional lain sesuai dengan keputusan MK,” kata Demas Demas Wicaksono.

“Maka dari itu, menjadi pembelajaran yang penting bagi penyelenggara negara supaya tidak main-main, kita ini adalah negara hukum, kita adalah negara demokrasi, ketika hukum itu hilang maka penyelenggara negara akan melakukan perbuatan sewenang-wenang yang kita alami hari ini, itu menjadi dasar saya untuk menggugat ketua KPU RI dan komisoner yang lain,” katanya.

Brian Demas Wicaksono mengatakan pihaknya menggugat KPU untuk membayar ganti rugi sebesar Rp70,5 triliun.Ganti rugi itu nantinya akan dikembalikan ke Negara, imbuhnya

“Angka Rp70,5 triliun itu adalah angka yang disampaikan oleh Menteri Keuangan Ibu Sri Mulyani kepada publik bawa anggaran Pemilu 2024 sebesar itu. Maka perbuatan hukum yang dilakukan ketua KPU RI adalah kerugian Rp70,5 triliun, itu nantinya akan kami kembalikan kepada negara,” ujarnya.

Brian Demas Wicaksono optimis gugatan itu akan diterima Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Dia yakin tindakan KPU menerima pendaftaran capres-cawapres Prabowo dan Gibran melanggar aturan.

“Kalau kami optimis dikabulkan, karena dalam teori hukumnya saja, kalau mahasiswa hukum semester 1 membaca itu sudah paham kalau ini perbuatan melawan hukum. Jadi apa yang dilakukan pada saat pendaftaran oleh ketua KPU, itu perbuatan melawan hukum dan ternyata dasarnya tidak ada, maka secara teori hukum dia melakuakan perbuatan melawan hukum. Ini sederhana saja,” ujarnya.

Kuasa hukum  Brian Demas Wicaksono, Anang Suindro mengatakan perbuatan KPU melanggar Pasal 13 ayat 1 huruf Q PKPU No 19 Tahun 2023 tentang Pencalonan Peserta Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden. Prabowo, Gibran, dan Bawaslu juga menjadi turut tergugat dalam gugatan tersebut, kata Anang Suindro.

“Kami melihat peristiwa itu yang dilakukan oleh KPU pada saat menerima pendaftaran tersebut, itu melanggar peraturan KPU Pasal 13 ayat 1 huruf Q yang di situ masih mensyaratkan calon presiden dan calon wakil presiden usianya yaitu 40 tahun, belum ada perubahan. KPU belum melakukan perubahan terkait dengan PKPU. Sehingga, dalam proses pelaksanaan pendaftaran calon presiden dan calon wakil presiden, seharusnya KPU tunduk dan patuh terhadap peraturan yang telah dibuatnya sendiri yaitu PKPU No 19 tahun 2023 tentang pendaftaran calon presiden dan calon wakil presiden,” kata Anang Suindro.

“Kemudian, selain KPU, yang kami libatkan dalam gugatan ini yaitu antara lain ada Bawaslu RI sebagai turut tergugat 1, kemudian Bapak Prabowo sebagai turut tergugat 2, dan Mas Gibran Rakabuming Raka sebagai turut tergugat 3,” imbuhnya.

Isi petitum gugatan Brian Demas Wicaksono terhadap KPU RI di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat :

1. Menerima Gugatan Penggugat untuk seluruhnya;
2. Menyatakan Perbuatan Hukum Tergugat yang menerima pendaftaran bakal pasangan Calon Presiden Prabowo Subianto (Turut Tergugat II) dan Calon Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka (Turut Tergugat III) pada hari Rabu tanggal 25 Oktober 2023 adalah merupakan Perbuatan Melawan Hukum;
3 Menyatakan segala keputusan-keputusan, surat-surat, penetapan-penetapan yang diterbitkan oleh Tergugat setelah menerima pendaftaran bakal pasangan Calon Presiden Prabowo Subianto (Turut Tergugat II) dan Calon Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka (Turut Tergugat III) yang berkaitan dengan pencalonan Prabowo Subianto (Turut Tergugat II) sebagai Calon Presiden dan Gibran Rakabuming Raka (Turut Tergugat III) sebagai Calon Wakil Presiden dinyatakan batal demi hukum dengan segala akibat hukumnya;
4. Menghukum Tergugat untuk membatalkan pendaftaran bakal pasangan Calon Presiden Prabowo Subianto (Turut Tergugat II) dan Calon Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka (Turut Tergugat III) pada hari Rabu tanggal 25 Oktober 2023 dengan segala akibat hukumnya;
5. Menghukum Tergugat untuk mengganti kerugian kepada Penggugat antara lain:
Kerugian Materiil: Rp.70.500.000.000.000,00 (Tujuh Puluh Triliun Lima Ratus Milyar Rupiah).
Inmateriil: Rp.100 (Seratus Rupiah)
6. Menghukum Tergugat, Turut Tergugat I, Turut Tergugat II, dan Turut Tergugat III untuk tunduk dan patuh terhadap putusan ini;
7. Menyatakan bahwa putusan ini dapat dilaksanakan terlebih dahulu, meskipun ada upaya verzet, banding, kasasi; perlawanan dan/atau peninjauan kembali (uitvoerbaar bij Voorraad);
8. Menghukum Tergugat untuk membayar seluruh biaya perkara yang timbul dalam perkara ini

Minta Putusan Provisi:

1. Menyatakan dan menetapkan bahwa sebelum perkara ini memperoleh putusan yang memiliki kekuatan hukum tetap, segala bentuk surat-surat, penetapan-penetapan, dan keputusan-keputusan yang dikeluarkan oleh Tergugat berkaitan dengan proses Pencalonan Tergugat II dan Tergugat III sebagai pasangan Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden dinyatakan berada dalam status quo dan tidak memiliki akibat hukum;
2. Memerintahkan Tergugat untuk menghentikan sementara proses tahapan pencalonan bakal pasangan Calon Presiden dan Calon Wakil Presiden Prabowo Subianto (Turut Tergugat II) dan Gibran Rakabuming Raka (Turut Tergugat III) sampai putusan akhir yang mempunyai kekuatan hukum tetap;

Respon KPU RI setelah digugat

Ketua Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia ( KPU RI ) Hasyim Asy’ari mengatakan bakal mempelajari gugatan itu. Serta menegaskan bahwa dirinya siap jika dipanggil oleh Pengadilan Negeri ( PN )  Jakarta Pusat. “Kalau nanti sudah ada panggilan sidang kita hadiri sidangnya,” kata Hasyim di Kantor KPU, Jakarta, Senin (30/10/2023).

Pos terkait