Menkes: Skrining Kanker Di Indonesia Tergolong Rendah,Banyak Pasien Ketahuan Memiliki Kanker Setelah Stadium Tiga.

Menteri Kesahatan RI Budi Gunadi Sadikin.

Kasihan, mau cek saja antrean-nya bisa sampai tiga bulan.
JAKARTA | Faktadetail.com – Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin menyoroti tingginya kasus kanker di Indonesia. Ia menuturkan bahwa kanker merupakan penyakit paling mematikan nomor tiga di Indonesia, setelah stroke dan penyakit jantung.
Menkes Budi Gunadi Sadikin menambahkan bahkan kasus kanker di Indonesia masih terus meningkat. Salah satu tantangan terbesar dari masalah penanganan kanker menurutnya adalah dari skrining. Ia menuturkan bahwa skrining kanker di Indonesia masih tergolong rendah.

Situasi ini membuat banyak pasien baru ketahuan memiliki kanker setelah stadium lanjut.

Bacaan Lainnya

“Jadi kalau saya ditanya, saya adalah orang yang mau mendorong kalau bisa kanker itu ketahuannya 90 persen itu di stadium satu. Jangan kayak sekarang 90 persen ketahuan sudah stadium tiga,” ucap Menkes Budi Gunadi Sadikin kepada wartawan di Jakarta Timur, Kamis (1/2/2024).

Tak hanya itu, Menkes Budi Gunadi Sadikin juga menyoroti masih kurangnya alat deteksi kanker di Indonesia. Ia mencontohkan untuk di Jakarta alat PET scan hanya tersedia tiga unit. Terdapat beberapa unit PET scan lain di luar DKI, tetapi penggunaannya tidak maksimal.

“PET scan di Jakarta itu cuma ada 3 sekarang. Bandung ada satu tapi nggak jalan. Kalimantan juga nggak jalan. Bayangin itu? Kita sudah siapkan anggarannya agar dalam waktu 2-3 tahun akan datang 13 PET scan, ke depan targetnya bisa menjadi 21 titik rumah sakit alat PET scan,” sambung Menkes.

Selain kurangnya alat skrining, ia juga menyoroti masih kurangnya produksi radiofarmaka yang diperlukan untuk mengoperasikan PET scan. Radiofarmaka merupakan obat radioaktif yang diproduksi menggunakan cyclotron dan berguna untuk diagnosis dan dan terapi berbagai macam penyakit.

Situasi ini membuat sebagian alat PET scan yang ada di Indonesia tidak dapat beroperasi dengan optimal untuk membantu proses skrining penyakit kanker.

Jumlah cyclotron yang tersedia saat ini baru berjumlah tiga buah di seluruh Indonesia. Menkes Budi Gunadi Sadikin menargetkan tempat produksi radiofarmaka nantinya akan ditingkatkan hingga berjumlah 10 cyclotron agar pengoperasian 21 PET scan nantinya bisa efektif.

“Harapannya supaya masyarakat sudah nggak perlu antre panjang lagi. Kasian antrean-nya bisa sampai tiga bulan baru mau cek saja,” pungkasnya.

Berdasarkan data Global Burden of Cancer Study (Globocan) dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat bahwa kasus kanker Indonesia pada tahun 2020 mencapai 396.914 kasus. Sedangkan total kematian akibat penyakit kanker sebesar 234.511.

Jenis kanker dengan kasus tertinggi di Indonesia adalah kanker payudara dengan 65.858 kasus atau 16,6 persen dari total seluruh kasus kanker. Pada urutan kedua terdapat kanker serviks dengan 36.633 kasus, dan kanker paru pada peringkat ketiga dengan 34.783 kasus.

Pos terkait