Sistem Pendataan Pertanian Indonesia Tidak Akurat, Indikasi Kuat Adanya Korupsi Anggaran Triliunan Rupiah

Anggota Komisi VI DPR RI Rieke Diah Pitaloka.

“Ketika data yang dihasilkan bukan data yang akurat, ini indikasi kuat adanya korupsi dari sektor pendataan. Kalau tidak seperti itu,  diminta pembuktian terbalik di mana datanya yang menghabiskan triliunan rupiah uang rakyat ?

JAKARTA | Faktadetail.com – Anggota Komisi VI DPR RI Rieke Diah Pitaloka mengkritisi pendataan sistem pertanian Indonesia. Menurutnya, pendanaan program pertanian sejauh ini tidak transparan peruntukannya. Ia pun meminta Kementerian Pertanian untuk memperbaiki pendataan tersebut.

Bacaan Lainnya

“Ketika data yang dihasilkan bukan data yang akurat, pertama, ini indikasi kuat adanya korupsi dari sektor pendataan. Kalau tidak seperti itu, saya minta pembuktian terbalik di mana datanya yang menghabiskan triliunan rupiah uang rakyat?” ujarnya di Gedung Nusantara II, DPR RI, Senayan, Jakarta ( 6/11/23 Parlementaria  )

Sebab, Rieke Diah Pitaloka menilai, ketika data yang dihasilkan bukanlah data yang akurat, maka hal tersebut akan berimplikasi pada kebijakan lainnya, termasuk soal pangan dan alokasi anggaran di sektor pangan. Padahal, pendataan sistem pertanian menggunakan anggaran yang tidak sedikit.

“Ketika data yang digunakan hasil pertanian tadi tidak bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah merupakan data yang akurat, aktual dan relevan. Maka indikasi kuatnya data itu justru dipergunakan sebagai legitimasi untuk penyalahgunaan anggaran negara di sektor pangan,” lanjut Politisi Fraksi PDI-Perjuangan ini.

Untuk itu, ia meminta Kementerian Pertanian juga terbuka ke publik terkait dengan prosedur dan mekanisme yang digunakan dalam pendataan tersebut. Sehingga ada transparansi terkait penggunaan anggaran tersebut yang diharapkan sesuai dengan peruntukannya.

“Yang kedua adalah ketika data yang direproduksi, saya kira buka ke publik apa prosedur dan mekanismenya. Siapa yang melakukan pendataan, turun kemana uang sejumlah itu triliunan rupiah itu. Siapa yang mendata, dimana ada datanya,” tutupnya.

Pos terkait