Kemendagri: Rencana Tata Ruang Terkait Kalimantan Utara Dan Sebatik Masih Dalam Proses Revisi

Harus ada rencana penyesuaian peta dasar Indonesia, dan antisipasi dampak penyesuaian peta dasar Indonesia. Kemudian Sinkronisasi data yang digunakan oleh Kementerian/ Lembaga harus dilakukan agar tidak terjadi konflik data.

TANGERANG | Faktadetatail.com – Kemendagri melalui Ditjen Bina Pembangunan Daerah, menghadiri rapat Koordinasi Pembahasan rencana penyesuaian batas negara RI-Malaysia, secara hybrid di JHL Silitaire Gading Serpong, Kota Tangerang.

Bacaan Lainnya

Dalam keterangan yang diterima redaksi, Kamis (31/8/23), terdapat dua pokok pembahasan utama dalam penyesuaian batas negara RI-Malaysia, yakni penyesuaian batas negara RI-Malaysia pada peta dasar dan dampak-dampak yang ditimbulkan paska penyelesaian OBP Pulau Sebatik dan OBP S.Sinapad-Sesai.

Terkait hal tersebut, harus ada rencana penyesuaian peta dasar Indonesia, dan antisipasi dampak penyesuaian peta dasar Indonesia. Kemudian Sinkronisasi data yang digunakan oleh Kementerian/ Lembaga harus dilakukan agar tidak terjadi konflik data.

Kepala Subditektorat Batas Negara dan Pulau-pulau terluar pada Direktorat Kawasasan, Perkotaan dan Batas Negara Direktorat Jenderal Bina Administrasi Kewilayahan, Nursyah Rizal, memberikan pandangan terkait dampak perubahan garis batas negara.

Bukan hanya itu, juga kondisi masyarakat yang terdampak serta aspek- aspek yang terkait kewenangan dan hubungan pemerintah pusat dan daerah.

Menurut Nursyah,  rencana tata ruang terkait Kalimantan Utara dan sebatik masih dalam proses revisi.

“Penyesuaian batas wilayah negara ini perlu diperhatikan agar tidak terjadi Missed match pada dokumen RTR terbaru,” katanya pada rapat koordinasi yang diselenggarakan oleh Kementerian Luar Negeri, belum lama ini.

Pada kesempatan ini juga, Direktur Bina Perencanaan Ruang Wilayah II Kementerian ATR/BPN, Reni, mengatakan bahwa, revisi terhadap PP No 21 tahun 2021 sedang berproses dan akan memasukan pembahasan tentang batas wilayah negara.

“Sebagai hasil FGD, setiap Kementerian dan Lembaga memiliki komitmen mengawal pembahasan terkait batas wilayah negara RI-Malaysia untuk melakukan pembahasan lanjutan terkait hal ini,”ucapnya.

Rapat ini dibuka dan ditutup oleh Direktur Hukum Perjanjian Kewilayahan, Kementerian Luar Negeri Bapak Andreano Erwin dan dihadiri oleh perwakilan dari Kementerian Dalam Negeri, Bappenas, Kemenko Perekonomian, Kementerian ATR/BPN, Badan Informasi Geospasial, Kemenkopolhukam, KSP, dan K/L lainnya.

Pos terkait